Blended Learning

Sunday, September 13, 2015

Blended Learning

Halo para pembaca setia, ketemu lagi dengan saya yang sudah sekian lama tidak menulis kembali artikel mengenai Pembelajaran. Pada artikel kali ini yang akan saya bahas mengenai metode baru yang sedang mulai ramai didunia pendidikan yaitu Blended Learning. Baru tanggal 12 September 2015 kemaren saya mengikuti Seminar Nasional tentang Pemanfaatan Teknologi dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Dr. Wasis D. Dwiyogo, M.Pd adalah seorang Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Malang yang pada saat itu merupakan salah seorang pemateri yang membahas metode baru "Blended Learning".
Blended Learning

1. Pengertian 
    Blended Learning merupakan metode mengajar campuran, yang terdiri dari kata blended (kombinasi/campuran) dan learning (pembelajaran). Thorne (2003) mengatakan bahwa "blended learning it represents an opportunity to integrate the innovative and technological advances offered by online learning with the interaction and participation offered in the best of traditional learning". Bahwa pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengintegrasikan kemajuan teknologi dan inovasi yang diberikan oleh pembelajaran online dengan interaksi dan pertisipasi yang terbaik yang diberikan oleh pembelajaran tradisional. Maka pemahaman yang diambil dari hal tersebut adalah pembelajaran yang bisa di integrasikan atau disatukan antara pembelajaran berbasis komputer (offline dan online) dengan pembelajaran secara klasikal (konvensional).
  Pembelajaran berbasis Blended Learning berkembang sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris dan Australia kalangan perguruan tinggi dan dunia pelatihan. Pada dasarnya pembelajaran berbasis blended ini memberikan kesempatan bagi peserta didik dan pendidik untuk memanfaatkan media teknologi yang sudah sangat berkembang pada saat ini, baik itu komputer, laptop, smartphone dan media elektronik lainnya yang digabungkan dengan pembelajran tatap muka (face to face). Tujuan utama pembelajaran blended ini baik bagi peserta didik maupun pendidik (guru/dosen) yaitu memberikan kemandirian, tanggung jawab, belajar berkelanjutan, sehingga belajar akan lebih efektif, efisien, menarik, menantang dan lebih menyenangkan.
    Hasil Penelitian Rovai dan Jordan (2004) yang dilakukan diberbagai negara terkait dengan perbedaan pengaruh pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran Blended learning menunjukan perbedaan yang cukup jauh dalam persentasi hasil belajar. Blended learning memberikan persentasi pengaruh lebih tinggi dibandingkan pembelajaran tatap muka. Ini berarti memberikan kejelasan untuk kita sebagai seorang pendidik agar mulai menggunakan pembelajaran berbasis Blended untuk pelaksanaannya dalam setiap aktivitas pendidikan.

2. Penerapan dalam Pembelajaran Penjas
   Penerapannya dalam pembelajaran, khususnya dalam Penjas bisa kita proporsikan dengan tujuan utama pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Tergantung pada tujuan mata pelajaran, karakteristik peserta didik, sarana prasarana disekolah, kemampuan dan karakteristik pengajar. Komposisinya bisa 50% tatap muka dan 50% pembelajaran offline/online, atau bisa juga 75% tatap muka dan 25% pembelajaran offline/online. Contoh penerapannya di Sekolah Menengah, 20 menit saat menjelaskan teknik dan aplikasi dalam permainan sepak bola bisa kita gunakan media offline dan online atau yang lainnya, kemudian 100 menit digunakan tatap muka (pemanasan, pelaksanaan, pendinginan/pelemasan). Pada dasarnya pelaksanaan ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan ilmiah pada kurikulum 2013 mulai dari aktivitas mengamati sampai mengkomunikasikan. Namun pembelajaran blended ini lebih mengedepankan pemanfaatan teknologi terhadap proses pembelajaran sehingga kegiatan belajar peserta didik bisa lebih efektif, efisien dan lebih menarik.

3. Keuntungan Blended Learning
   Dengan perkembangan kemajuan teknologi pada saat ini, tidak ada metode dan media tunggal yang mampu ideal untuk semua jenis pembelajaran dan pelatihan, karena setiap aspeknya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing. Media cetak sebagai sumber belajar lebih fleksibel dibawa kemana-mana namun tidak efektif apabila suatu saat membutuhkan banyak gambar yang harus dibawa. Media Komputer lebih interaktif dan lebih efektif dalam semua bentuk media namun kelemahannya mobilitas terbats dan pasti membutuhkan daya listrik. Begitu juga metode yang diberikan kepada peserta didik Sekolah Menengah tidak bisa digunakan untuk Mahasiswa. Untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, dengan berbagai karakteristik, minat, kemampuan dan usia bisa menggunakan pembelajaran berbasis blended learning. Dengan ini peserta didik manapun diberikan keleluasaan dalam belajar memanfaatkan teknologi yang kini kian berkembang dan sangat dekat dengan semua kalangan, sehingga menjadikan peserta didik lebih profesional, lebih aktif, interaktif dan mampu bekerjasama dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya.
   Keuntungan yang diperoleh dengan manfaat pembelajaran berbasis blended learning bagi lembaga pendidikan dan pelatihan adalah:
- memperluar jangkauan pembelajaran/pelatihan,
- kemudahan implementasi,
- efisiensi biaya,
- hasil yang optimal,
- menyesuaikan berbagai kebutuhan peserta didik,
- meningkatkan daya tarik pembelajaran.